SELAMAT DATANG DI BERITAKU.COM, TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA. JANGAN LUPA BERIKAN KOMENTAR ANDA.

Klik Gratis


Masukkan Code ini K1-35B8YD-8
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
Produk SMART Telecom

PR

***

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Kirim

Add to Plusmo

Add to Google Reader or Homepage

Alexa

Info Anda

IP

Sejarah Siregar [6] Tugu Gaja Sibadoar

Salah satu turunan Badia Raja gelar Namora Tuat Sende diyakini sebagai pendiri bonabulu Huta Sibadoar yang pada awalnya berlokasi di sekitar pertemuan Aek Siguti dan Aek Lampesong; yang sekarang dikenal dengan nama Lobu Sibadoar bernama Ja Parjanjian (Mangaraja Parjanjian I), yang adalah generasi ke-5 jika dihitung dari Timba Laut gelar Raja Pande Bosi Ompu ni Hatunggal sebagai generasi awal.

Ja Parjanjian dengan isterinya boru Harahap dari Huta Sabungan Julu (daerah Angkola Julu) dimakamkan/pusaranya berada di lokasi “Tugu Gaja Sibadoar”. Di lokasi sekitar pertemuan Aek Siguti dengan Aek Lampesong (lokasi Lobu Sibadoar); sama dengan lobu-lobu lain di sekitarnya dijumpai banyak makam-makam tua; di antaranya termasuk makam Ompu Raja Lintong Soruon; nenek/pendiri Tor Sidingding Mataniari (Babondar = Bungabondar). Tulang belulangnya (saring-saring) di-okkal/dipindahkan ke Huta Bungabondar pada tahun 1959. Pada tahun 1977, tugunya diresmikan oleh para turunannya dengan upacara adat Angkola di Huta Bungabondar.

Catatan:

Babondar – Bungabondar digoaran Sidaludalu Jae; Sipirdot – Sipirok digoaran Sidaludalu Julu. Berdasar buku Tarombo/catatan silsilah dihitung dari yang diyakini sebagai pendiri Lobu Sibadoar yaitu Ja Parjanjian (Mangaraja Parjanjian I) sebagai generasi awal, keturunannya mencapai generasi ke-10 pada tahun 2000 M. Bilamana satu generasi dihitung 25 tahun; itu artinya Huta Sibadoar (Lobu Sibadoar) didirikan ± 250 tahun yang silam.

Mengingat di lokasi Lobu Sibadoar banyak dijumpai situs atau makam-makam tua yang tidak dikenal, maka usia parhutaon Sibadoar masih memerlukan pengkajian dan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kepastian. Disamping itu perlu dicatat pada saat Islam Bonjol (tingki ni Pidari) memasuki Luat Sipirok pada awal abad ke-19; huta Sibadoar sudah dikenal; jadi bukan perkampungan baru lagi.

Pada tahun 1975 sebagai hasil musyawarah hatobangon Huta Sibadoar antara lain: Sutan Panindoan Muda ; Effendy gelar Batara Saniang Naga dan Pintor Partogi gelar Sutan Mandame disepakati untuk membangun dan mendirikan Tugu Gaja Sibadoar; lokasinya di bekas parhutaon Sibadoar; dikenal dengan nama Lobu Sibadoar; berdekatan dengan makam/pusara Ja Parjanjian (Mangaraja Parjanjian I) bersama isterinya marga Harahap dari Sabungan Julu (daerah Angkola Julu). Setelah pembangunan selesai, diresmikan dengan pesta adat Angkola pada tahun 1981, didukung sepenuhnya oleh Anak/Boru/Bere-Pisang Raut Sibadoar di perantauan.

Gambar konstruksi Tugu dibuat oleh Amir Tambunan, mantan pejabat pada Kantor Pekerjaan Umum Wilayah Tapanuli di Padangsidempuan, anak boru Sibadoar.Tugu terdiri dari 4 (empat) tiang beton cor, tertinggi ± 6 meter, melambangkan pendiri Huta Sibadoar, sedang 3 (tiga) tiang beton cor lainnya tingginya ± 5 meter, melambangkan turunannya masing-masing: 1. Mangaraja Sotardogor; 2. Ja Lumut; 3. Ja Mangayun.

Di pelataran tegak berdiri patung se-ekor Gajah Putih. Untuk pusara/makam Ja Parjanjian (Mangaraja Parjanjian I) dengan isteri marga Harahap boru dari Sabungan Julu (Angkola Julu) dibuatkan sebuah bale sesuai adat Angkola Sipirok.

Sejak “tempo doeloe” Lobu Sibadoar dan sekitarnya dikenal ke-angkerannya, tempat hunian ular-ular berbisa, ular sendok dan cobra dan juga ulok sibaganding; dan disamping itu banyak situs atau makam-makam tua yang tidak dikenal.

Perihal ulok sibaganding (disebut ulok na martua; ulok na denggan) konon dapat menimbulkan malapetaka terhadap orang yang usil mengganggu dan tidak menghormatinya, apalagi kalau sampai membunuhnya. Kepercayaan atas kesaktian ulok sibaganding, masih ber-urat ber-akar diyakini masyarakat umum di Luat Sipirok hingga hari ini.

Angkernya lokasi di sekitar Tugu Gaja ini “tempo doeloe” membuat orang segan memasukinya, kendatipun hanya sekedar mengambil kayu bakar sehingga ada kesan tidak diurus; padahal lokasinya tidak jauh dari kampung, atau persawahan Huta Sibadoar.

Sebatang pohon Pau (Mangifera indica, sejenis pohon mangga) tua tumbuh subur di lokasi ini, dan mencapai tinggi antara 10 sampai 13 m berdaun rimbun; dikenal sebagai tanda medan, sehinga pada masa itu kalau disebut di daerah Sipirok Pau Sibadoar, orang akan mengerti bahwa yang dimaksudkan adalah bekas par-hutaon Sibadoar (Lobu Sibadoar).

Sebelum bangsa Jepang masuk ke Sipirok pada tahun 1941 (Jepang masuk/mendarat di Sibolga pada bulan Maret tahun 1942), Pendeta Kondar Siregar, (lahir tahun 1875), putra Sibadoar, setelah pensiun dari jabatan pendeta kembali ke Huta Sibadoar.

Beliau berkebun sayur di lokasi Lobu Sibadoar. Pada waktu itulah pohon Pau Sibadoar ditebang/disuruh tebangnya. Pendeta ini terkenal pemberani dan tidak takut akan keangkeran tempat itu, dan ulok sibaganding (ulok na martua, na denggan) penghuni Lobu Sibadoar oleh beliau dipindahkan ke tempat lain dengan cara menggendongnya dengan ulos Batak (tiga warna; merah, putih dan hitam). Kejadian ini diyakini kebenarannya, karena diceritakan oleh mereka yang ikut menyaksikannya.

Comments :

0 komentar to “Sejarah Siregar [6] Tugu Gaja Sibadoar”

Posting Komentar